Uyung : "Kesantunan berbahasa antarpelajar secara etik tidak santun, namun wajar dalam kelompoknya"

Diposting pada: 2016-08-28, oleh : Suparta, Kategori: Kesiswaan

KESANTUNAN BERBAHASA PELAJAR DALAM BERINTERAKSI DENGAN TEMAN DAN GURU DALAM PROSES PEMBELAJARAN  DI DALAM KELAS
OLEH : UYUNG AMILUL ULUM, S.Pd., S.Sos., M.Pd.

ABSTRAK

Tulisan  ini berbicara mengenai  kesantunan berbahasa di kalangan para pelajar dalam hal ini pelajar SMK Negeri 1 Pandeglang dalam berinteraksi dengan teman dan guru. Tujuannya adalah untuk mengungkapkan bagaimana realisasi kesantunan berbahasa pelajar; faktor-faktor kebahasaan dan nonkebahasaan macam apa yang berperan; dan nilai-nilai budaya seperti apa yang melatarinya. Tulisan ini hasil sebuah riset yang dilakukan selama 6 bulan (Januari s.d. Juni 2011). Penulis melakukan observasi partisipatif/nonpartisipatif, merekam dan mencatat hasil-hasilnya serta menganalisnya berdasarkan kerangka teori sosiopragmatik. 
Hasilnya, 1) tuturan berbahasa antarpelajar dapat dikatagorikan tidak santun secara etik. Ketidaksantunan ini dianggap wajar karena situasi pertuturan berlangsung antarteman (emik). Sementara itu tuturan pelajar dengan guru secara umum termasuk santun; 2) kesantunan dipengaruhi faktor penggunaan bahasa dan nonbahasa. Faktor bahasa : diksi dan konstruksi kalimat. Faktor nonkebahsaan: kinesik, proksimik, dan unsur suprasegmental; 3)  penelitian menemukan empat nilai budaya: welas asih, handap asor, ajrih dan someah. Welas asih adalah kasih sayang yang harus dijaga dalam pergaulan. Ajrih sikap hormat kepada orang tua (ayah-ibu), dan orang yang usianya lebih tua. Handap asor sikap merendah. Someah kesopanan yang lebih menitikberatkan aspek bahasa tubuh daripada kata-kata. Marahmay/manis budi, murah senyum terhadap mitra tutur.
Kesimpulannya, kesantunan berbahasa antarpelajar tidak santun, namun wajar dalam kelompoknya. Tuturan mereka dengan guru tergolong santun. Kesantunan para pelajar sangat dipengaruhi aspek kebahasaan dan nonkebahasaan juga nilai-nilai budaya. Ada tiga hal yang disarankan: 1) diperlukan riset lanjutan untuk mengungkap kesantunan pada pengguna bahasa diglosia (Sunda Pandeglang); 2) dibutuhkan kerjasama untuk melembagakan tuturan yang baik dan benar; 3) sebaiknya pembelajaran pragmatik dicantumkan dalam kurikulum bahasa Indonesia.

Kata Kunci: Kesantunan berbahasa, sosiopragmatik, diglosia, nilai-nilai budaya


A.    Latar Belakang Masalah
Kesantunan berbahasa merupakan buah dari proses internalisasi (Berger, 1971: 183) atau proses pendarahdagingan orang tua kepada anaknya melalui sosialisasi primer sehingga menjadi pola perilaku berbahasa sehari-hari, dan akan lebih mengakar lagi kalau ditopang oleh lingkungan sekitar melalui sosialisasi sekunder: teman sebaya, tetangga rumah, masyarakat sekitar, sekolah, tokoh masyarakat, sosok yang diidolakan, tontonan yang disukai, dsb. Gabungan antara keduanya (sosialisasi primer dan skunder) terhadap perilaku berbahasa (kesantunan atau ketidaksantunan) anak akhirnya akan menghasilkan pola yang sulit dibelokan atau diubah, dan di balik perilaku berbahasa tersebut terkandung nilai-nilai pengiring  yang  akan memberikan warna dalam watak, sifat, dan kepribadian seseorang pada masa kini dan mendatang. Dengan demikian, kesantunan yang memiliki kepermanenan pada seseorang merupakan buah dari proses internalisasi dalam pengasuhan orang tua atau orang dewasa serta lingkunga sekitar yang diberi hak dan melaksanakan haknya dengan benar atau menyimpang dari norma-norma/kaidah atau nilai sosiokultural yang berlaku di masyarakat.
Di sisi lain , di dunia empirik, penulis  menemukan adanya bentuk-bentuk tuturan yang berlaku di kalangan para pelajar  yang dalam pandangan penulis dapat dikatagorikan sebagai bentuk tuturan yang kasar (etik). Kata-kata polongo, bego, aing, dia dalam bahasa Sunda dan guah-eluh dalam bahasa Indonesia nonbaku sering muncul sebagai bentuk tuturan para siswa ketika berinteraksi dengan sesama atau teman. Kata-kata tersebut meluncur lancar dari tuturan siswa dibarengi dengan volume suara yang cukup nyaring. Ragam tuturan semacam ini  menjadi begitu lazim digunakan di kalangangan mereka. Bahkan,  tampaknya dengan bahasa seperti itu mereka menciptakan subkultur tersendiri yang kadang-kadang menjadi  pertanda hubungan yang akrab di antara mereka. 
Padahal menurut pengamatan penulis, waktu para pelajar banyak dihabiskan di sekolah dalam Proses Belajar-Mengajar (PBM) di kelas. Dengan demikian, sesungguhnya para pelajar paling banyak berinteraksi  dengan teman dan guru dalam situasi PBM. Hal ini akan terlihat dari jadwal PBM di sekolah-sekolah. Di SMK sendiri, khususnya  SMK Negeri 1 Pandeglang,  jadwal tatap muka (PBM)  untuk hari Senin sampai dengan Kamis, dimulai dari  pukul 07.15 dan selesai pukul 14.00  dikurangi istirahat 45 menit. Dengan demikian, lama interaksi dalam PBM 7 jam 15 menit ( 435 menit). Hari Jum’at masuk pukul 07.15 keluar 11.15, dikurangi istirahat 15 menit. Lama interaksi 3 jam 45 menit ( 225 menit). Hari Sabtu dimulai dari pukul 07.15, berakhir pukul 12.00, dikurangi istirahat 15 menit. Lamanya tatap muka (PBM) pada hari tersebut 4 jam 45 menit ( 285 menit). Berdasarkan uraian tersebut dapat diketahui bahwa rata-rata lama/durasi interaksi pelajar dengan temannya dan guru dalam situasi PBM selama enam hari adalah 6 jam 25 menit (385 menit). Jadi, enam jam dua puluh lima menit rata-rata  dalam sehari adalah momentum  yang sangat menentukan dalam membangun sikap dan prilaku para pelajar. Sikap seperti apa dan prilaku yang bagaimana sehingga menjadi suatu kebiasaan, kebiasaan membangun karakter dan karakter menentukan nasib seseorang, dan dalam konteks kolektif  nasib suatu masyarakat dan bangsa. Berdasarkan pengamatan penulis, tidak ada waktu yang disediakan begitu konsisten dan terstruktur yang diberikan oleh lembaga manapun untuk membentuk karakter seorang individu di luar keluarga, kecuali yang bernama sekolah dan sejenisnya (pesantren. Inilah alasan mengapa kesantunan berbahasa pelajar dalam berinteraksi dengan teman dan guru dalam proses pembelajaran menjadi penting untuk dicermati.

B. Fokus Tulisan
Tulisan ini merupakan hasil sebuah riset pendekatan kualitatif yang memokuskan diri pada karakteristik spesifik dari suatu gejala (Gall, 2003: 436). Dalam hal ini, gejala tindak tutur terkait kesantunan berbahasa pelajar SMK Negeri 1 Pandeglang dalam berinteraksi dengan teman dan guru  pada saat proses belajar mengajar berlangsung di dalam kelas. 
Bagaimanakah kesantunan berbahasa direalisasikan dalam tuturan pelajar SMK Negeri 1 Pandeglang ketika berinteraksi dengan teman dan guru pada saat proses belajar-mengajar di kelas; bagaimanakah faktor-faktor kebahasaan dan nonkebahasaan ikut berperan; serta nilai-nilai budaya apa yang merefleksikan kesantunan berbahasa pelajar SMK Negeri 1 Pandeglang dalam berinteraksi dengan teman dan guru pada saat proses belajar-mengajar di kelas adalah rumusan dari fokus tulisan ini. Penulis melakukan observasi partisipatif dan nonpartisipatif, merekam dan mencatat hasil-hasilnya kemudian menganalisnya berdasarkan kerangka sosiopragmatik. 
 
C. Hasilnya
Realisasi kesantunan berbahasa para pelajar ketika berinteraksi dengan teman, diwadahi dalam tiga bentuk tuturan dengan berbagai fungsinya.Tiga bentuk tuturan dengan segala fungsinya tersebut meliputi tuturan deklaratif, imperatif, dan interogatif. Tuturan deklaratif sebanyak  45 tuturan, 14 buah atau 30,44 % berfungsi informatif, 16 atau 36,96 berfungsi memutuskan/menilai, 9 atau 19,56 % berfungsi menjelaskan, dan 6 atau 13,04 berfungsi protes/kritik. Tuturan imperatif sebanyak 38 tuturan: 23 buah atau 60,53 % berfungsi perintah, 6 buah atau 15,78 % berfungsi permintaan tidak langsung, 4 atau 10, 53 % permintaan langsung, 3 atau 7,89 melarang, dan 2 atau 5,26 % berfungsi ajakan. Adapun tuturan interogatif sebanyak 48 tuturan terdiri dari 18 atau 37,50 % berfungsi meminta keterangan, 19 atau 39,59 berfungsi minta pengakuan, 4 atau 8,33 % meminta bantuan, 1 atau 2,08 menyindir, 1 atau 2,08 mempertanyakan dengan nada protes, 1 atau 2,08 berfungsi menyuruh/memerintah, dan 1 atau 2,08 % berfungsi meyakinkan. Data-data tersebut menunjukkan bahwa bentuk tuturan yang paling banyak digunakan oleh para pelajar ketika berinteraksi antarsesama adalah tuturan interogatif, menyusul deklaratif, dan terakhir imperatif. Ini artinya interaksi antarpelajar berlangsung aktif tanpa ada hambatan jarak sosial dan jarak keotoritasan. Selanjutnya, tuturan pelajar saat berinteraksi dengan guru hanya diwujudkan dalam dua bentuk tuturan, yaitu tuturan deklaratif dan interogatif. Tuturan deklaraif sebanyak 23 tuturan. Dua puluh tiga atau 100% tuturan tersebut seluruhnya berfungsi informatif. Tuturan interogatif sebanyak 19 buah. Sebelas tuturan atau 57,90 % berfungsi meminta penegasan, 4 atau 21,05 % berfungsi meminta keterangan, dan 4 atau 21,05 % lainnya berfungsi meminta penjelasan. Tuturan deklaratif sebagian besar merupakan respons dari tuturan guru. Tuturan interogatif sebagian besar berfungsi meminta penegasan. Tuturan imperatif dalam bentuknya yang paling halus pun tidak muncul, misalnya permohonan. Hal ini menunjukkan bahwa interaksi pelajar dengan guru didominasi oleh guru di antaranya karena jarak sosial dan keotoritasan masih berpengaruh kuat.
Dari tiga bentuk tuturan tersebut hanya tuturan deklaratif yang dapat ditinjau dengan menggunakan prinsip kerja sama Grice, dua bentuk tuturan lainnya tidak dapat dilakukan. Adapun, prinsip kesantunan dapat diterapkan pada ketiga bentuk tadi. Hal ini terjadi karena prinsip kerja sama berbicara mengenai isi suatu tuturan sedangkan prinsip kesantunan mengenai caranya tuturan tersebut disampaikan. Ditinjau dari prinsip kerja sama tuturan deklaratif pelajar ketika berinteraksi dengan teman pada umumnya telah menerapkan semua maksim, yaitu maksim kuantitas, kualitas, cara, dan relevansi. Sementara itu, apabila ditinjau dari prinsip kesantunan tuturan deklaraif pelajar hanya menerapkan empat maksim yaitu maksim kebijaksanaan, kemurahan hati, kesimpatian, dan kecocokan. Adapun maksim kesederhanaan dan penghargaan tidak diterapkan karena situasi pertuturan berlangsung antar teman yang sudah akrab. Hal ini berlaku pula pada tuturan imperatif dan interogatif. Adapun tuturan deklaratif pelajar dengan guru telah memenuhi semua prinsip kerjasama, dan untuk prinsip kesantunannya hanya lima maksim yang diterapkan, yaitu maksim kebijaksanaan, penghargaan, kesederhanaan, kecocokan, dan kesimpatian. Sisanya maksim kemurahan hati belum diterapkan tetapi juga tidak dilanggar. Dengan demikian, secara umum tuturan antarpelajar tergolong kurang santun sedangkan tuturan dengan guru sudah santun.
Selain ditinjau dari prinsip kesantunan, tiga bentuk tuturan tersebut ditinjau pula dari sklanya. Hasilnya, tuturan antarpelajar dalam ketiga bentuk tuturan tadi hanya menerapkan skala kentungan-kerugian, skala pilihan, dan skala ketidaklangsungan. Dua skala lainnya, yaitu skala keotoritasan dan jarak sosial tidak dapat dijadikan ukuran derajat kesantun pada tuturan pelajar karena para penutur-petutur berada dalam jarak sosial dan keotoritasan yang sama: seusia, satu kelas, sudah lama saling mengenal, sama-sama pelajar, dan akrab satu sama lain. Selanjutnya, apabila ditinjau dari skala kesantunan, tuturan pelajar ketika berinteraksi dengan guru telah menerapkan empat skala kesantunan, yaitu skala keuntungan-kerugian, skala pilihan, skala keotoritasan,dan skala jarak sosial. Sementara itu, skala ketidaklangsungan tidak dapat dijadikan untuk mengukur derajat kesantunan tuturan para pelajar karena semua tuturannya dinyatakan dalam bentuk langsung: tidak menggunakan ungkapan, majas, kata berpagar, kata-kata pemanis atau basa-basi yang dianggap menambah atau mewujudkan kesantunan, dll. Dengan demikian, secara umum tuturan pelajar ketika berinteraksi dengan guru dapat dikatagorikan sudah santun. Sementara itu, tuturan pelajar dengan pelajar dapat dikategorikan tidak santun namun ketidaksantunan yang wajar karena tuturan terjadi dalam suasan akrab dan tuturan tidak mengakibatkan rasa tersinggung antarpihak yang bertutur.
Kesantunan dapat pula dipengaruhi oleh faktor penggunaan bahasa dan nonbahasa. Berdasarkan hasil analisis, faktor bahasa yang digunakan pada tuturan pelajar dengan pelajar dan pelajar dengan guru meliputi diksi kata dan konstruksi kalimat. Majas dan ungkapan tidak digunakan dalam tuturan. Adapun faktor nonkebahsaan meliputi kinesik, proksimik, dan unsur suprasegmental. Diksi kata yang digunakan oleh para pelajar dengan sesama terdiri dari bahasa Sunda, bahasa Indonesia, dan campuran antara keduanya. Sementara itu, interaksi dengan guru seluruhnya dinyatakan dalam diksi bahasa Indonesia. Diksi kata yang digunakan para pelajar dalam bahasa Sunda semuanya  memiliki derajat kesantunan yang rendah. Dalam bahasa Indonesia hanya ada beberapa yaitu ‘perempuan’, ‘si’ ‘gua’, dan ‘luh’. Sedangkan diksi kata dalam bahasa Indonesia saat berinteraksi dengan guru hanya ada satu kata yaitu kata ‘ngobrol’ harusnya ‘berbicara/berdialog/berbincang’. Selanjutnya, faktor kebahasaan lainnya, yaitu konstruksi kalimat yang disusun atau digunakan oleh para pelajar dalam bertutur,  baik saat berinteraksi dengan sesama maupun guru , hampir semuanya dinyatakan dalam kalimat pendek dan langsung, kecuali dalam tuturan (266), “Pak, mau bertanya, kalau ngobrol dua orang atau lebih disebut apa? Dengan demikian, secara umum diksi kata yang digunakan dalam tuturan pelajar ketika berinteraksi dengan guru dapat dikatagorikan sudah santun. Adapun diksi kata dalam tuturan pelajar dengan pelajar dapat dikatagorikan tidak santun namun ketidaksantunan yang wajar karena tuturan terjadi dalam suasan akrab dan tuturan tidak mengakibatkan rasa tersinggung antarpihak yang bertutur. Sementara itu, penggunaan konstruksi kalimat dalam tuturan pelajar ketika berinteraksi dengan sesama dan guru, secara umum belum santun.
Faktor nonkebahasaan kinesik gerak-gerik tubuh, mimik muka, gerak-gerik kepala, dan tangan dapat  pula mempertegas atau memperjelas suatu tuturan yang tidak dapat dinyatakan semata-mata oleh faktor bahasa. Beberapa di antaranya dapat menimbulkan efek kesantunan seperti membungkuk dan menunjuk dengan jempol tangan merupakan kinesik yang mendukung kesantunan bertutur. Demikian pula faktor proksimik atau jarak pertuturan antar penutur dan petutur. Interaksi antarpelajar dilakukan dalam jarak berdekatan, bersentuhan, dan tidak jarang saling pukul terutama ketika bercanda. Beberapa pelajar putri sering berpelukan saat bertemu atau berpelukan untuk mengekspresikan kegembiraan dan perasaana-perasaan lainnya. Bahkan ada salah seorang pelajar putri kalau bertutur selalu diikuti dengan menyentuh tubuh mitra tuturnya. Sementara itu, ketika para pelajar berinteraksi dengan guru,  mereka cenderung menjaga jarak tuturan, kecuali saat bersalaman cium tangan. Ketika berjalan di depan guru mereka umumnya mempercepat jalan dan ketika berada di belakang memperlambatnya supaya jarak semakin jauh atau tetap dengan tujuan tidak mendahului guru, kalaupun terpaksa mereka akan  mengucapkan permisi untuk mendahului guru. Unsur suprasegmental dapat pula mempengaruhi kesantunan. Dalam penelitian ini, unsur suprasegmental yang ditemukan perpanjangan nada suara dan volumenya. Untuk tuturan antarpelajar volume suara tinggi ditemukan pada tuturan yang bermaksud memperingatkan teman-teman agar tidak ribut. Sedangkan tuturan pelajar dengan guru hanya ditemukan pada satu kasus yaitu pada saat seorang pelajar dipanggil namanya dalam pengecekan kehadiran dengan menyahut ‘hadiiir’ dalam suara yang panjang dan tinggi. Dengan demikian, secara umum faktor nonkebahasaan dalam tuturan pelajar ketika berinteraksi dengan guru dapat mendukung kesantunan. Sementara itu, faktor nonkebahasaan dalam tuturan pelajar dengan pelajar dapat dikatagorikan tidak santun namun ketidaksantunan yang wajar karena tuturan terjadi dalam suasana akrab dan tuturan tidak mengakibatkan rasa tersinggung antarpihak yang bertutur.
Nilai-nilai yang merefleksikan kesantunan para pelajar dalam berinteraksi dengan teman dan guru pada waktu proses belajar mengajar berlangsung meliputi nilai welas asih, handap asor, ajrih dan someah. Welas asih atau kasih sayang merupakan nilai universal yang diajarkan atau diinternalisasikan oleh orang tua, masyarakat, dan sekolah. Ajrih adalah nilai yang ditanamkan oleh orang tua, masyarakat, dan guru kepada para pelajar untuk bersikap menghormati orang tua dalam pengertian ayah-ibu, dan orang yang usianya lebih tua. Handap asor adalah nilai pergaulan yang harus dijunjung tinggi yang diwujudkan dengan sikap merendah, tidak menonjolkan diri dan tidak berperilaku sombong kepada sesama. Someah adalah nilai pergaulan yang diwujudkan dalam perilaku sopan terhadap sesama. Kesopanan dalam nilai someah lebih menitikberatkan pada aspek bahasa tubuh daripada kata-kata, meskipun kata-kata masih tetap diperhitungkan agar tidak menyinggung perasaan orang lain. Kesomeahan yang dinyatakan dalam bahasa tubuh terutama dalam bentuk ekspresi muka yang dituntut untuk  selalu marahmay atau manis budi, murah senyum. Ini artinya meskipun secara bahasa para pelajar Kelas XI Penjualan menggunakan bahasa Sunda kasar ketika berinteraksi dengan sesama namun di balik kekasaran tersebut tersimpan  empat nilai budaya. Hal inilah yang menyebabkan interaksi di antara pelajar tetap lancar tidak memunculkan konflik yang mengakibatkan pertengkaran, perkelahian, bahkan tawuran antar pelajar. 

D. Simpulan dan Saran
a. Simpulan 
Simpulannya, kesantunan berbahasa para pelajar dalam penelitian ini yang terjadi antarpelajar secara etik dapat dikatakan tidak santun, namun wajar dalam kelompoknya (emik). Tuturan mereka dengan guru tergolong santun. Kesantunan para pelajar sangat dipengaruhi aspek kebahsaan dan nonkebahasaan juga dipengaruhi nilai-nilai budaya yang mereka anut.

b. Saran
Berdasarkan hasil riset ini ada tiga hal yang dapat disarankan: pertama diperlukan riset lanjutan untuk mengungkap kesantunan pada komunitas pengguna bahasa diglosia (Sunda Pandeglang); kedua dibutuhkan kerjasama semua pihak dalam melembagakan tuturan yang baik dan benar; ketiga sebaiknya pembelajaran pragmatik dicantumkan secara eksplisit dalam kurikulum bahasa Indonesia.

 

DAFTAR PUSTAKA

Alwasilah, Chaedar A.1990. Sosiologi Bahasa. Bandung: Angkasa.
Alwi, Hasan. 2003. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia, Edisi Ketiga. Jakarta: Balai       Pustaka

Amirudin, Suwaeb. 2007. Komersialisasi Produksi dan Adaptasi Penerapan Teknologi Alat Penagkapan ke Arah Peningkatan Kehidupan Sosial Ekonomi : Studi Kasus Komunitas Nelayan Patorani di Kabupaten Takalar Sulawesi Selatan. Desertasi, UNPAD. Tidak diterbitkan.

Arimi, Sailal. 2008. Ihwal Metode Penelitian Sosiolinguistik. sailal_arimi@ yahoo.com.

Aslinda dan Leni Safyahya. 2010. Pengantar Sosiolinguistik. Bandung: Refika Aditama

Berger, Peter L. 1971. The Social Construction of Rality. London : Penguin.
Beamer, Linda and Iris Varner. 2008. Intercultural Communication in The Global Work Place. New York: Mc Graw Hill.

Bungin, Burhan. 2007. Analisis Data Penelitian Kualitatif: Pemahaman Filosofis dan Metodologis ke Arah Penguasaan Model Aplikasi. Jakarta: Rajawali Press.

Chaer. Abdul. 2004. Sosiolingustik: Perkenalan Awal. Jakarta: Rineka Cipta.

___________  2010. Kesantunan Berbahasa. Jakarta: Rineka Cipta.

Chamber, J.K. 1996. Sociolinguistic Theory: Lingustic Variation and Its Social Significance. Massachusetts: Blackwell.

Cummings, Louise. 2007. Pragmatik: Sebuah Perspektif Multidimensional (Terjemahan Setiawati, dkk.): Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Ember, Carol R. and Melvin Ember. 1990. Anthropology. New Jersey: Prentice Hall.

Emzir. 2010. Metodologi Pnelitian Kualitatif: Analisis Data (Model Bogdan dan Biklen, Model Miles dan Hubermann, Model Strauss dan Corbin, Model Spradley, Analisis Isi Model Philipp Mayring, dan Program Komputer NVivo). Jakarta: Rajawali Press

Fraenkel, Jack R. 2007. How to Design and Evaluate Research in Education. New York: Mc Graw Hill.

Gall, Meredith D. 2003. Educational Research: An Introduction. Boston: Allyn and Bacon.

Jufrizal, dkk. Hipotesis Sapir-Whorf Dan Struktur Informasi Klausa Pentopikalan Bahasa Minangkabau. Jurnal Linguistika,Vol. 14, No. 26, Maret 20071 Sk Akreditasi Nomor: 39/Dikti/Kep. 2004.

Keraf, Gorys. 2004. Komposisi. Flores: Nusa Indah.

Kuswarno, Engkus. 2008. Etnografi Komunikasi: Suatu Pengantar dan Contoh Penelitiannya. Bandung: Widya Padjadjaran.

Lawang, M.Z. 1989. Pengantar Sosiologi. Jakarta: Karunika UT.

Leech, Geofrey. 1993. Prinsip-prinsip Pragmatik ( Terjemahan Oka). Jakarta: Universitas Indonesia Press.

Levinson, Stephen. 1983. Pragmatics. London: Cambidge University Press.

Lubis, Hamid Hasan. 1994. Analisis Wacana Pragmatik. Bandung: Angkasa.

Marshall, Catherina. and Grechen B. Rossman. 2006. Designing Qualitative Research, Fourt Edition. Thousand Oaks: Sage Pulication.

McGee, R. Jon. and Richard L. Warms. 2000. Anthropological Theory: An Introductory History. New York: McGraw Hill.

Miles, Matthew  B. dan A. Michael Huberman. 1992. Analisis Data Kualitatif (Terjemahan Rohidi). Jakarta: Universitas Indonesia Press.

Moleong, Lexy J. 2002. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Rosdakarya.

Mufidah, Nida. Perilaku Berbahasa Santri Ponpes Darul Hijrah Cindai Alus Kabupaten Banjar. Jurnal Khasanah: Vol. V. No. 06 November-Desember 2006
Mukminatien, Nur. Respon Pujian dalam Bahasa Indonesia Oleh Dwibahasawan Indonesia-Inggris. Jurnal Bahasa dan Seni, Tahun 33, Nomor 2, Agustus 2005. 

Mulyana, Deddy. 2002. Metodologi Penelitian Kualitatif: Paradigma Baru Ilmu Komunikasi dan Ilmu Sosial Lainnya. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Muslich, Masnur. 2006. Pokok-pokok Pikiran tentang Sopan Santun Berbahasa. Muslich.m.blogspot.com.

Nadar, F.X. 2009. Pragmatik dan Penelitian Pragmatik. Jogjakarta: Graha Ilmu.

Ohoiowutun, Paul. 2007. Sosiolinguistik: Memahami Bahasa dalam Konteks Masyarakat dan Kebudayaan. Jakarta: Visipro.

Pace, R. Wayne dan Don F. Faules. 1998. Komunikasi Organisasi; Strategi Meningkatkan Perusahaan (Deddy Mulyana, Pentj). Bandung: Remaja Rosdakarya.

Poloma, Margaret M. 2000. Sosiologi Kontemporer (Terjemahan). Jakarta: Rajawali Press.

Pranowo. 2009. Berbahasa Secara Santun. Yohyakarta: Pustaka Pelajar.

_______ Kesantunan Berbahasa Indonesia sebagai Pembentuk Kepribadian Bangsa.http://Pondokbahasa.wordpress.com/2008/11/23kesantunan-berbahasa indonesia-sebagai-pembentuk-kepribadian-bangsa.

Rahardi, R. Kunjana. 2002. Pragmatik : Kesantunan Imperatif Bahasa Indonesia. Jakarta: Erlangga.

_________2006. Dimensi-dimensi Kebahasaan: Aneka masalah Bahasa Indonesia Terkini. Jakarta: Erlangga.

Sobur, Alex. 2009. Semiotika Komunikasi. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Spradley, James P. 2007. Metode Etnografi (Terjemahan Elizabeth). Yogyakarta: Tiara Wcana.

Sudaryanto. 1993. Metode dan Aneka Teknik Analisis Bahasa: Pengantar Penelitian Wahana Kebudayaan secara Linguistik. Yogyakarta: Duta Wacana University Press.

Sugiyono,  2007. Memahami Penelitian Kualitatif. Bandung: Alfabeta.

________ 2008. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta.

Suharti. Pendidikan Sopan Santun Dan Kaitannya Dengan Perilaku Berbahasa Jawa Mahasiswa. Jurnal DIKSI Vo/.ll. No.1. Januari 2004.  

Sukanto, Surjono. 1999. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Sumarsono. 2008. Sosiolingustik. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Suriasumantri, Jujun S. 2007. Filsafat Ilmu. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.

Wijana, IDP dan Muhammad Rohmadi. 2010. Sosiolinguistik: Kajian Teori dan Analisis. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Yule, George. 2006. Pragmatik (Terjemahan Wahyuni). Jogjakarta: Pustaka Pelajar.

Yin, Robert K. 2008. Studi Kasus: Desain dan Metode (Terjemahan Mudzakir). Jakarta: Rajawali Press.

Yuwono, Untung. 2007. Pesona Bahasa : Langkah Awal Memahami Linguistik. Jakarta: Gramedia.

Zamzani. 2007. Kajian Sosiopragmatik. Yogyakarta: Cipta Pustaka.


Print BeritaPrint PDFPDF

Berita Lainnya



Tinggalkan Komentar


Nama *
Email * Tidak akan diterbitkan
Url  masukkan tanpa Http:// contoh :www.ruumit.com
Komentar *
security image
 Masukkan kode diatas
 

Ada 0 komentar untuk berita ini

Himbauan Informasi